Berbakti Kepada Orang Tua Non-muslim (Kabar Kejutan Untuk Keluarga Bag-2)

Berbakti Kepada Orang Tua Non-muslimDalam Islam, bersikap baik kepada kedua orang tua dinilai sebagai sebuah bentuk ketaatan kepada Allah dan Utusan-Nya, dan akan mendapatkan balasan kebaikan di hari kiamat.
"dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya..." (quran surat 46:15).
Menghormati dan mentaati mereka adalah cara untuk menunjukkan rasa terimakasih kita kepada mereka atas pengorbanan mereka selama ini dalam membesarkan kita.

Dengan menghormati dan mentaati kedua orang tua anda, akan menumbuhkan rasa kasih sayang, terutama  di saat anda mengalami perubahan, menjadi orang yang 'berbeda' di mata mereka karena anda telah menjadi seorang muslim. Di saat seperti ini, barangkali orang tua anda berprasangka bahwa anda akan melawan dan menolak mereka karena anda menjadi seorang muslim. Dengan tetap berbakti kepada mereka, maka anda akan membuktikan kepada mereka, bahwa anda tidak berubah menjadi lebih buruk dengan menjadi seorang muslim bahkan menjadi lebih berbakti kepada mereka.

Berbakti kepada kedua orang tua non-muslim adalah dengan mentaati  kedua orang tua dalam hal-hal kebaikan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, menghormati kedua orang tua, merendahkan suara di hadapan mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan, dan jangan pernah membantah kedua orangtua anda. Kemudian hal yang terpenting dari itu semua adalah selalu mendoakan kedua orang tua anda agar mendapat petunjuk untuk menerima Islam seperti anda. Ketaatan kepada kedua orang tua yang anda lakukan adalah sebatas tidak melanggar larangan Allah.

"akan tetapi jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik". (quran surat 31:15).

Kedua orang tua tidak ditaati jika mereka meminta anda melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan Utusan-Nya.
 Mungkin suatu ketika kedua orang tua anda menghidangkan daging babi di meja makan. Sementara daging babi haram dalam Islam. Maka untuk sementara, anda bisa menolak dengan cara yang halus dan berpura-pura bahwa anda sedang tidak enak makan. Mencoba untuk sebisa mungkin tidak menyerang kebiasaan mereka.
 Ketika anda merasa waktunya sudah tepat dan anda ingin membuka percakapan tentang keislaman anda, maka awalilah dengan ungkapan terimakasih anda atas jasa-jasa mereka selama ini.

Tunjukkanlah betapa bahagianya anda bersama mereka. Lalu jelaskanlah kepada mereka alasan anda tertarik kepada Islam dan akhirnya memeluk Islam. Yakinkanlah kepada mereka bahwa kasih sayang dan bakti anda kepada mereka masih utuh seperti dulu. Berhati-hatilah dalam berkata. Jangan memancing sebuah perdebatan dengan mengatakan semacam 'agamaku vs agamamu'. Jika mereka menolak dan kemudian marah, menyatakan kebencian atas keislaman anda, maka hadapilah dengan tenang dan sabar.

Sikap baik anda akan menunjukkan secara nyata kepada mereka, bahwa Islam tidak seburuk yang mereka kira, dan mudah-mudahan, pada akhirnya mereka akan menerima perubahan anda dan menerima Islam. Inilah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan kabar mengejutkan untuk orang-orang yang kita cintai.

Mualaf di Zaman Nabi Menghadapi Orang Tua Non Muslim

Kami ingin mengakhiri tulisan ini dengan kisah shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini, semoga bermanfaat.

Dari Abu Kasir, Yazid bin Abdurrahman, Abu Hurairah bercerita kepadaku, “Dulu aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam ketika dia masih musyrik. Suatu hari aku mendakwahinya namun dia malah memperdengarkan kepadaku cacian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentu merupakan kalimat-kalimat yang tidak kusukai untuk kudengar. Akhirnya aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam aku berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku berusaha untuk mendakwahi ibuku agar masuk Islam namun dia masih saja menolak ajakanku. Hari ini kembali beliau aku dakwahi namun dia malah mencaci dirimu. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu dari Abu Hurairah”.

فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلَى الْبَابِ فَإِذَا هُوَ مُجَافٌ فَسَمِعَتْ أُمِّى خَشْفَ قَدَمَىَّ فَقَالَتْ مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ. وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ – فَاغْتَسَلَتْ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجِلَتْ عَنْ خِمَارِهَا فَفَتَحَتِ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ –

Kutinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan gembira karena Nabi mau mendoakan ibuku. Setelah aku sampai di depan pintu rumahku ternyata pintu dalam kondisi terkunci. Ketika ibuku mendengar langkah kakiku, beliau mengatakan, “Tetaplah di tempatmu, hai Abu Hurairah”. Aku mendengar suara guyuran air. Ternyata ibuku mandi. Setelah selesai mandi beliau memakai jubahnya dan segera mengambil kerudungnya lantas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka beliau mengatakan, “Hai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya”.

قَالَ – فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ وَأَنَا أَبْكِى مِنَ الْفَرَحِ – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبْشِرْ قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِى هُرَيْرَةَ. فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ خَيْرًا – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُحَبِّبَنِى أَنَا وَأُمِّى إِلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ وَيُحَبِّبَهُمْ إِلَيْنَا – قَالَ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا – يَعْنِى أَبَا هُرَيْرَةَ وَأُمَّهُ – إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الْمُؤْمِنِينَ ». فَمَا خُلِقَ مُؤْمِنٌ يَسْمَعُ بِى وَلاَ يَرَانِى إِلاَّ أَحَبَّنِى.

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus”. Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku [HR Muslim no 6551].

Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH