Perjalanan Atheis Muda Amerika Menemukan Islam



kisah mualaf, atheis masuk islam

Sebuah kisah perjalanan seorang pemuda 14 tahun menemukan dan masuk Islam.
Diterjemahkan dari islamreligion. com oleh fajar putuadi.

Namaku C.S.Mathos. Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga sekuler pada bulan Agustus 1992 di Pennsylvania. Ibuku, pada mulanya adalah seorang penganut agama Nasrani.

Tatkala beliau masih kecil, beliau berangkat ke Gereja Quaker, mengikuti perkemahan gereja. Akan tetapi waktu itu beliau merasa ketakutan karena penceramah yang selalu menceritakan tentang “Armageddon” sebuah perang akhir zaman. Kemudian di sisa hidupnya, ibuku menjalaninya sebagai seorang sekuler (seseorang yang tidak menjalankan agama-red) . 

Sebenarnya ibuku lebih cenderung pada pemahaman agnoistik (bahwa manusia tidak mempunyai cukup bukti untuk membahas apakah Tuhan itu ada atau tidak-red) daripada berpaham atheis sepertiku. Lebih jelasnya, sebagai seorang anak kecil, aku memiliki logika yang mengejutkan, dan beranggapan bahwa adalah hal yang mustahil bahwa Tuhan itu ada. Aku jadi tidak peduli dengan agama.

Aku seseorang yang memiliki obsesi pada dinosaurus, dan berkeinginan untuk mempelajari banyak hal tentang dinosaurus. Aku hafal hal-hal semacam berat dari T-rex mencapai 7 ton, sekawanan triceraptops akan melindungi anak-anak mereka dengan cara membentuk sebuah lingkaran, dan seekor veloceraptor yang memiliki kemampuan berlari mencapai 75 mph.

Tak pelak lagi, aku menjadi ejekan ketika kecintaanku pada dinosaurus tidak juga mereda, ejekan terus berlalu ketika aku juga mulai tertarik pada naga dan yang semacamnya. Hinaan-hinaan itu tidak memengaruhiku karena aku selalu dapat mengonntrol emosiku, aku dapat menjaga ucapanku.

Ketika aku berkata-kata aku selalu melakukannya dengan rendah hati, lembut, dan aku juga tidak banyak bicara, karena aku tidak percaya pada orang-orang, aku menyukai imajinasiku melebihi kehidupan nyata. Bahkan ketika terjadi serangan 9/11 aku tidak banyak berkomentar dan sama sekali tidak bereaksi. Serangan itu sama sekali tidak membuatku menjadi ketakutan.

Waktu itu aku berfikiran bahwa kata “muslim” adalah sebuah nama sebuah suku di Irak. Yang aku pikirkan hanyalah tentang perang Irak ketika orang-orang yang tidak bersalah diperkosa di penjara Abu Ghraib. Ketika berita-berita itu sering muncul, aku merasa mulai terganggu. Aku  mulai berdebat dengan orang-orang tentang agama dan politik. Waktu itu agama yang aku tahu hanyalah agama Kristen.

Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku mendapat sebuah hinaan dan aku menganggapnya serius. Aku merasa depresi. Pada waktu itu aku tidak tertarik pada apapun. Aku memutuskan bahwa aku butuh sebuah agama. Aku tidak memeluk suatu agama tertentu, tetapi aku hanya percaya bahwa hanya ada satu Tuhan. Karena kegetiran hidupku, aku menyalahkan Tuhan karena berbagai permasalahan hidupku.

Aku mulai memberikan perhatian yang lebih pada dunia politik. Melupakan agama pada sebagian besar bagiannya, dan aku mulai membaca buku tentang Hitler dan WWII. Aku benar-benar merasa tertarik pada WWII, nazisme, dan berlanjut pada paham komunisme. Sepanjang hidupku, aku menyatakan bahwa komunisme adalah ideology yang gagal, akan tetapi aku ingin mempelajari sisi lain dari seorang komunis. 

Aku menjadikan komunis manifesto sebagai sampel pengamatanku. Mencari artikel tantang hal itu, dan aku bergabbung dalam gerakan marxis. Aku melihat diriku sendiri memperjuangkan sesuatu: sebuah masyarakat yang benar-benar bebas, sejajar, dan bersatu.

Aku menyibukkan diri dalam sebuah pergerakan dan bergabung dalam sebuah grup. Aku tidak memberinya nama. Aku mengatakan pada orang-orang bahwa aku seorang komunis hanya ketika mereka bertanya kepadaku. Oh, pemuda.. kamu pikir seseorang akan bisa menciptakan kebahagiaan dengan kamu menjadi seorang komunis? Jangan membicarakan itu lagi. Itu terlalu membuat depresi.

 Aku tersandar pada sebuah meja makan dan mulai menangis, karena mengalami banyak penyiksaan dari teman sekelasku. Aku merasa bahwa aku hanya butuh pada sebuah agama. Aku mencoba di agama Kristen. Pada akhirnya aku pun meninggalkan Kristen. Ada kontradiksi bagiku.

Aku melihat dan mengamati sekeliling, mengamati mulai dari kristianisme sampai  mitologi Yunani. Aku memutuskan untuk mengamati Islam pada urutan terakhir karena mempertimbangkan prasangka-prasangka perang dan aku bisa saja dibunuh karena mengikuti agama seperti ini. 

Aku telah menyerah terhadap semuanya, dan aku berkata pada diriku sendiri ,” Hal terakhir yang harus kamu pelajari adalah Islam, ambillah al quran dan bacalah. Siapa tahu itu adalah sesuatu yang selama ini kamu cari-cari".

 Aku memesan al quran pada sebuah website, dan aku mendapatkannya lewat pos 5 hari kemudian. Warna sampulnya hijau gelap, benar-benar gelap. Aku pikir warnanya hitam. Kitab ini memiliki sampul jilidan yang indah, tercetak tulisan bertinta emas pada sampulnya. Akupun mulai membacanya. 

Aku tidak melihat di dalamnya apa yang selama ini digambarkan oleh televisi. Aku melihat dalam al quran bahwa hanya ada satu Tuhan dan tidak ada sesuatu yang lain untuk disembah kecuali Tuhan. Aku melihat hal seperti ini dalam al quran dan aku ingin bergabung dengan agama ini.

Aku mencari di internet tentang bagaimana cara beribadah menurut Islam, dan aku menemukan situs islamreligion.com. Aku melihat menu di website, “bagaimana cara masuk Islam dan menjadi seorang muslim”. Aku memutuskan bahwa mempelajari tatacara beribadah nanti saja, aku harus masuk Islam dulu. 
Aku butuh untuk berserah diri kepada Tuhan sekarang. Aku menemukan dalam website tersebut kalimat syahadat dan menuliskannya. Kemudian aku mengucapkan syahadat (persaksian keimanan), dan aku menjadi seorang muslim. 

Segera saja, aku merasa bahwa rasa sakit yang ada dalam hatiku menjadi hilang, dan aku merasa sangat bahagia. Tuhan telah berbuat baik kepadaku, dan aku mencoba melakukan ibadah shalat 5 kali dalam sehari untuk-Nya. 

Bagaimanapun juga mengingat adanya islamphobia, ketidaktoleranan orang-orang dan paham sektarianisme yang ada, maka aku harus menjalankan agamaku dengan sembunyi-sembunyi. Aku beribadah kepada Tuhan di pagi hari, siang, sore, petang dan malam hari. Jika aku mampu, aku berkendara ke masjid terdekat setiap jum’at. 

Sementara ibuku belum mengetahui bahwa aku telah menjadi seorang muslim. Aku akan memberitahukannya ketika aku telah benar-benar siap, atau ketika aku telah menginjak usia dewasa dan bisa bertempat tinggal di tempat lain atau ketika aku telah kuliah. 

Aku berdoa agar Tuhan menjagaku dari orang-orang yang tidak beriman dan menolongku untuk bisa menjadi muslim terbaik sejauh yang aku bisa di saat aku menjalaninya secara sembunyi-sembunyi.

Seandainya ibuku membaca tulisanku ini, aku ingin agar beliau mencoba untuk mengenal Islam terlebih dahulu sebelum menetapkan keputusan bahwa Islam agama yang buruk. Biarkanlah aku menjalankan agamaku dengan damai tanpa ejekan yang itu membuatku tersakiti. 
Tak terasa aku telah menjalankan Islam selama seminggu, kukira.



Comments

  1. Alhamdullilah, doa ku semoga kita bisa menjadi muslim yang kafah. Amin

    ReplyDelete

Post a Comment

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH