Tata Cara Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan bagi Mualaf (Puasa 3)




Tata Cara Menjalankan Ibadah Puasa (Puasa 3)Jika anda seorang mualaf, mungkin ramadhan tahun ini adalah ramadhan pertama anda, dan anda masih bingung, bagaimana tata cara menjalankan ibadah puasa yang benar. 

Barangkali anda baru saja masuk Islam, atau mungkin juga anda adalah seorang muslim sejak lahir, tetapi baru pada tahun ini anda mulai kembali kepada agama anda setelah bertahun-tahun hidup jauh dari ajaran Islam

 Alhamdulillah , satu bulan lagi kita akan memasuki bulan ramadhan, bulan di mana seorang muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa adalah salah satu diantara 5 rukun Islam.

Jika ramadhan tahun ini adalah ramadhan pertama anda, maka barangkali anda masih belum mengetahui apa itu puasa ramadhan dan bagaimana cara menjalankannya. Ada baiknya anda juga membaca artikel kami terdahulu yang menjelaskan apa itu puasa ramadhan dan kenapa seorang muslim harus berpuasa. Silahkan baca Puasa Ramadhan. 

Pada artikel kami kali ini, kami akan mengajak anda untuk bersama-sama mempelajari bagaimana cara mejalankan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Tata cara menjalankan ibadah puasa ramadhan

1.       Niat
Langkah pertama yang harus kita lakukan untuk memulai menjalankan ibadah puasa adalah berniat. Adalah sebuah kewajiban bagi seseorang yang akan menjalankan ibadah puasa untuk berniat  menjalankan ibadah puasa sebelum terbit fajar, ikhlas mengharapkan ridho Allah semata.

 Jadi misalnya besok kita akan berpuasa, maka kita harus mulai berniat puasa malam ini atau sampai paling lambat sebelum terbit fajar esok hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,” barang siapa yang belum berniat puasa sampai terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (hadits riwayat abu dawud)

Bagimana cara berniat puasa? Untuk berniat puasa maka cukup berniat dalam hati bahwa besok kita akan berpuasa. Niat itu letaknya ada di dalam hati. Adapun mengucapkan bacaan niat dengan lisan, maka ini adalah sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2.       Waktu  memulai pelaksanaan ibadah puasa
Kapan ibadah puasa dimulai? Sebelum menjawab pertanyaan itu, maka kita ketahui terlebih dahulu bahwa waktu fajar ada 2 macam.

a.       Fajar kadzib, yaitu waktu pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.
b.      Fajar shadiq, yaitu waktu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.

Kita mulai menjalankan ibadah puasa kita ketika telah masuk waktu fajar shadiq atau simpelnya, ketika adzan subuh mulai berkumandang. Ketika adzan subuh yang menandai masuknya fajar shadiq telah berkumandang, maka kita mulai dilarang untuk makan dan minum dan juga hal-hal yang membatalkan ibadah puasa lainnya. Lihat artikel kami terdahulu di sini.

Adapun sebelum masuk waktu subuh, maka kita dianjurkan untuk makan sahur, yaitu makan dan minum yang kita lakukan sebelum masuknya waktu subuh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah dengan makan sahur”. (hadits riwayat Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”makan sahurlah, karena di dalam sahur terdapat berkah”. (hadits riwayat Bukhari).

Adalah  termasuk sunnah nabi untuk mengakhirkan makan sahur sampai mepet menjelang masuknya waktu subuh/fajar shadiq.

3.       Waktu mengakhiri ibadah puasa ( berbuka)
Puasa kita pada hari itu berakhir ketika telah masuk waktu maghrib yang ditandai dengan dikumandangkannya adzan maghrib atau ketika matahari telah terbenam. Kita boleh makan dan minum lagi. Dianjurkan untuk segera mengakhiri / membatalkan ibadah puasa kita pada hari  itu ketika telah masuk waktu maghrib.

Nabi shallallahi’alaihi wa sallam bersabda ,”manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka tidak menunda waktu berbuka”. (hadits riwayat Bukhari)

Pembatal - pembatal puasa

Puasa seseorang akan batal jika dia melakukan salah satu dari hal - hal berikut ini:

  1. Makan, minum, atau memasukkan apa saja melalui kerongkongan atau leher;
  2. Bersetubuh
  3. Menyengaja muntah
  4. Masturbasi
  5. Haid
  6. Nifas
  7. Hilang ingatan
  8. Keluar dari agama Islam

Doa Berbuka Puasa
Ketika berbuka puasa, kita juga dianjurkan untuk membaca doa,
“dzahabadzh dzhoma-u wab tallatil ‘uruqu wa tsabatal aj-ru insya Allah”
Artinya : “dahaga telah hilang, tenggorokan kembali basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah”.

Siapa saja yang wajib berpuasa?
Ada beberapa syarat yang menyebabkan seseorang wajib berpuasa. Apabila pada seseorang ada syarat - syarat ini, maka ia wajib berpuasa, yaitu

  1. Beragama Islam
  2. Telah Dewasa
  3. Berakal
  4. Mampu (bukan termasul orang yang mendapatkan keringanan untuk boleh tidak berpuasa)
Apakah mualaf sudah wajib berpuasa?
Ya, seorang mualaf yang baru saja masuk Islam, dan menjumpai bulan Ramadhan sebagai seorang muslim, maka wajib baginya berpuasa apabila dia juga memenuhi syarat wajib puasa yang lainnya (dewasa, berakal,mampu).

Siapa saja yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan?
Kondisi setiap orang tidaklah sama, ada beberapa orang yang boleh tidak berpuasa  karena beberapa hal. Inilah kemudahan di dalam Islam, bentuk kasih sayang Allah kepada orang - orang yang lemah dan tidak mampu. Lalu siapa saja mereka?
  1. Orang sakit, dan sakitnya akan memberatkannya jika berpuasa;
  2. Musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan yang jauh;
  3. Orang yang sudah tua renta dan orang sakit yang sudah tidak bisa diharapkan kesembuhannya.
  4. Wanita hamil atau menyusui (Shahih Fiqh Sunnah 2/118-125)
Kewajiban bagi orang yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa ramadhan.
Orang yang sakit dan musafir diperintahkan untuk mengganti puasa yang dia tinggalkan pada hari - hari berikutnya, ketika sudah tidak sakit dan tidak dalamperjalanan lagi.

"Barangsiapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (musafir), maka wajib baginya mengganti puasa di hari - hari lainnya". (QS al Baqarah : 184)

Sedangkan orang yang sudah tua renta dan orang sakit yang sudah tidak bisa diharapkan kesembuhannya,maka kewajibannya adalah dengan membayar fidyah (makanan) kepada orang miskin.

"Wajib bagi orang -orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin". (QS al Baqarah : 184)

Sedangkan ibu yang hamil atau menyusui , sebagian ulama berpendapat bahwa mereka harus membayar fidyah, sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa mereka harus mengganti puasanya pada hari yang lainnya.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai tata cara berpuasa.

Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH