Kebenaran, Mutlak atau Relatif? Bag-1




jalan kebenaranSeringkali ketika seseorang membicarakan tentang agama dan kepercayaan, kita mendengar ada seseorang yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak untuk menghakimi agama dan kepercayaan orang lain. Agama dan kepercayaan adalah urusan pribadi setiap orang, dan kita tidak berhak menghakimi agama dan kepercayaan seseorang itu benar atau salah.


Saudaraku, sepanjang sejarah umat manusia , peradaban manusia telah mendasarkan hukum dan norma –norma mereka atas  semacam “kebenaran mutlak” yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran. Hal ini sebagai hasil dari adanya suatu hukum tertulis yang mereka anggap berasal dari pihak yang menguasai mereka  atau berasal dari pembawaan naluri manusia itu sendiri yang membuat manusia memandang hal tertentu sebagai sebuah kebaikan dan hal yang lainnya sebagai sebuah keburukan.

Manusia dalam batasan tertentu, memandang hal –hal tertentu sebagai sebuah kebaikan dan hal lainnya sebagai sebuah keburukan. Sebagai contoh, setiap manusia siapapun juga dan dimana pun mereka berada , akan menganggap tinja dan air seni sebagai sesuatu yang menjijikkan. Begitu juga , perbuatan semacam membunuh, mencuri, menipu, dan menyakiti adalah suatu perbuatan yang buruk.  Sebaliknya, perbuatan seperti dermawan, kejujuran, sopan, saling mencintai adalah sesuatu yang dianggap sebagai hal yang terpuji. Hal –hal seperti itu adalah hasil dari sifat pembawaan manusia, yang telah tercetak di setiap naluri umat manusia.

Ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa tidak ada yang berhak menghakimi agama dan kepercayaan orang lain sebagai sebuah kebenaran atau kesalahan, maka dia mengatakan sesuatu yang kontradiktif. Bagaimana dia akan menyikapi jika ada kepercayaan yang mengajarkan kepada pengikutnya bahwa seorang isteri harus melakukan bunuh diri ketika suaminya meninggal dunia. Lalu ketika ada suatu kepercayaan yang menginstruksikan para pengikutnya untuk melakukan bunuh diri masal sebagai sarana untuk bertemu dengan Tuhannya, atau melakukan tindakan teror yang menewaskan orang - orang yang tidak bersalah , apakah dia akan tetap mengatakan bahwa agama dan kepercayaan adalah urusan pibadi setiap individu, kita tidak berhak menghakimi agama dan kepercayaan mereka sebagai sebuah kesesatan ataupun mengklaim kebenaran suatu agama dan kepercayaan tertentu.

Jika hal – hal semacam ini kita bawa sebatas urusan individu belaka, maka setiap individu akan bebas menentukan benar-salah dan baik buruk segala sesuatu menurut selera dan kepercayaan masing – masing individu. Satu golongan manusia akan menganggap bahwa perbuatan mesum adalah hal yang boleh – boleh saja, sementara golongan manusia yang lain menganggapnya sebagai sebuah tindakan tidak terpuji. Seseorang mungkin saja akan mengkonsumsi narkoba dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang sah –sah saja dan tidak ada seorangpun yang berhak menghakimi perbuatannya sebagai sebuah kejahatan. Setiap individi dibebaskan untuk menentukan nilai kebenaran sesuai selera mereka.
Jika pemahaman semacam ini tersebar dan dipakai dalam kehidupan sehari – hari, maka akan terciptalah suatu masyarakat anarkis yang dibangun di atas ketidak pastian hukum , karena tidak ada yang berhak menghakimi perbuatan orang lain.

Kemudian jika ada yang mengatakan lagi bahwa ada nilai – nilai kebenaran tertentu yang secara umum dapat diterima oleh semua pihak, diterima oleh semua manusia, untuk dijadikan dasar penetapan hukum bersama, maka dalam batas tertentu pernyataan ini bisa jadi benar, mengingat apa yang telah kita bahas di awal bahwa setiap manusia secara alamiah memiliki naluri pembawaan untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk dalam hal – hal tertentu. Akn tetapi pada kenyataannya, naluri ini seringkali berubah dipengaruhi oleh faktor lingkungan, psikolgis, dan agama. Bisa saja terjadi suatu perbuatan tertentu pada suatu waktu dianggap sebagai perbuatan tercela, lalu seiring berjalannya waktu, di kemudian hari perbuatan tadi menjadi sesuatu hal yang diterima di tengah masyarakat. Hal seperti inilah yang terjadi pada masyarakat yang menggunakan sistem demokrasi, di mana hukum di dasarkan pada keputusan mayoritas manusia. Dalam suatu masyarakat yang mayoritasnya menganggap hubungan seksual di luar pernikahan adalah hal yang wajar dan di terima, maka hukum yang berlaku akan membebaskan warganya untuk melakukan seks bebas.
Lalu jika kita mengatakan bahwa kebenaran itu seharusnya hanya ada satu dan mutlak , tidak relatif menurut masing – masing individu maupun kelompok, maka nilai kebenaran yang mana yang merupakan kebenaran yang sejati, dan siapakah yang memutuskannya? Apakah diputuskan oleh para hakim dan pengacara yang biasa disuap? Ataukah diputuskan para politisi yang hanya mementingkan keuntungan pribadi maupun kelompoknya? Ataukah para filosof yang “bekerja keras” menemukan kebenaran universal berdasarkan kontemplasi pribadinya? 

Manusia tidak bisa dibiarkan untuk memutuskan sendiri nilai – nilai kebenaran yang sesungguhnya. Maka logikanya satu – satunya yang berhak untuk menetapkan nilai – nilai kebenaran universal adalah pihak yang telah menciptakan universe (alam semesta) itu sendiri. Yang paling mengetahui tentang hakikat seluruh ciptaannya. Dialah Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Tuhan yang Mahasempurna yang menciptakan alam semesta dan menetapkan ukuran – ukuran di dalamnya dengan sangat teliti dan tepat. Yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Tuhan telah mengajarkan dan memberitahukan kepada kita nilai – nilai kebenaran? Yang mana? Ketika semua pihak mengklaim bahwa apa yang ada pada mereka adalah kebenaran sejati yang berasal dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta, maka bagaimana kita harus bersikap? Apakah kebenaran itu adalah pada salah satu di antara mereka atau bahkan tidak ada? Kita akan melanjutkannya pada pembahasan selanjutnya. Kebenaran, Mutlak atau Relatif bag-2. 

Comments

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam