Idul Fithri : Kembali Berbuka Setelah Puasa Ramadhan

Idul Fithri : Kembali Berbuka Setelah Puasa Ramadhan
Akhir dari bulan Ramadhan telah mengantarkan kita pada salah satu dari hanya dua hari raya tahunan yang ada dalam agama Islam yaitu hari raya 'idul fithri. Apa itu 'idul fithri? Di dalam bahasa arab , kata 'id itu bermakna sesuatu yang kembali dan berulang dalam setiap periode waktu tertentu. Dalam kehidupan kita sehari - hari, makna 'id berkembang menjadi sebuah perayaan, pesta. adapun kata 'fithri' berakar dari kata 'ifthar' yang bermakna berbuka puasa. Jadi dengan datangnya 'idul fithri bermakna hari di mana kaum muslimin kembali untuk tidak berpuasa setelah sebulan penuh berpuasa di bulan ramadhan.
Akan tetapi adalah tidak tepat jika kita menganggap bahwa kaum muslimin merayakan perpisahan mereka dari bulan suci Ramadhan yang penuh keutamaan, dan merayakan 'kebebasan' mereka setelah merasa 'terpenjara' di bulan Ramadhan. Merayakan idul fithri bagi seorang muslim adalah mensyukuri bahwa Allah telah memberikan kemampuan kepada mereka untuk menyelesaikan puasa sebulan penuh, mensyukuri rahmat Allah dan berdoa agar amal mereka selama menjalani  ibadah di bulan Ramadhan di terima oleh Allah Yang Mahapengasih.

Allah berfirman:
"...hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (hari berpuasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur". (quran surat 2 : 185)

Perayaan 'idul fithri yang benar mungkin tidak seperti yang anda kira. Ketika memasuki waktu maghrib di akhir bulan Ramadhan, dan pemerintah kaum muslimin menetapkan masuknya bulan syawwal, maka berakhirlah bulan Ramadhan. Keesokan harinya umat Islam bangun di waktu subuh yang sangat spesial. Tidak lupa dengan pembayaran zakat fithrah mereka kepada kaum fakir miskin sebagai penyempurna ibadah puasa mereka dan sebagai hiburan bagi kaum fakir di hari raya. Silahkan baca "Zakat Fitrah, Kepedulian Sosial Islam di Hari Raya". Di awal pagi kaum muslimin mandi lebih awal, mengenakan pakaian terbagus yang mereka miliki, dan sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan mengenakan pakaian yang baru pada hari raya idul fithri.

"Allah itu indah dan mencintai keindahan" (shahih muslim).
 "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pada hari ‘Id, Beliau mengenakan burdah warna merah". [Ash Shahihah, 1.279].
Pada hari raya ini adalah saat untuk menampakkan nikmat - nikmat Allah sebagai wujud rasa syukur dan bukan ajang pamer baju baru. Adalah termasuk sunnah, kita memakan beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tanah lapang, sebagai penekanan bahwa pada hari itu, bulan puasa memang sudah berakhir. Ini adalah hari perayaan kembali berbuaka puasa : 'idul fithri, jadi kita tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ini.
 "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan beberapa kurma". [HR Al Bukhari].

Menuju Tanah Lapang
Setelah mempersiapkan diri dengan penampilan terbaik, umat Islam berduyun - duyun menuju tanah lapang untuk menyelenggarakan ibadah shalat id bersama - sama. Dalam cuaca yang buruk,seperti hujan, kadang - kadang shalat id di laksanakan di masjid.

Kaum muslimin berbondong - bondong dari rumah - rumah mereka seraya membesarkan Nama Allah, memuji Nya dengan mengucapkan, "Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu akbar. laa ilaha illallah Allahu akbar. Allahu akbar wa lillahi 'l'hamd". Allah Mahabesar, Tiada yang berhak diibadahi selain Allah, Allah Mahabesar, dan hanya milik-Nyalah segala pujian.  Tidak lupa kaum muslimin saling mendoakan "taqobbalallahu minna wa minkum" semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian, sebagaimana menjadi sunnah yang dilakukan para shahabat Nabi.

Setelah menyelesaikan dua rakaat shalat idul fithri secara berjamaah di tanah lapang, kaum muslimin mendengarkan khutbah idul fithri, mengagungkan Nama Allah dan bersyukur kepada-Nya. Seusai khutbah, kaum muslimin pulang menuju rumah masing - masing dengan melewati rute yang berbeda dari rute ketika berangkat ke tanah lapang, sebagaimana yang di ajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kaum muslimin menampakkan syiar -syiar Islam dalam pelaksannan shalat id di tanah lapang, dalam perjalanan berangkat dan pulang melewati rute yang berbeda.

Adapun setelah itu, maka di tiap - tiap daerah / negara memiliki tradisi yang berbeda - beda dalam merayakan idul fithri selama tidak berlebih -lebihan, tidak membuat bid'ah, dan tidak melanggar syariat Islam seperti berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
Itulah tadi sekilas tentang perayaan idul fithri dalam agama Islam. Sebuah perayaan yang indah, diawali dengan ibadah puasa sebulan penuh, zakat fitrah kaum fakir miskin, shalat id, membesarkan dan memuji Nama Allah. wallahu a'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam