Ibadah Haji: Persamaan dan Persaudaraan Lintas Bangsa dalam Islam

Ibadah Haji: Persamaan dan Persaudaraan Lintas Bangsa dalam Islam
https://www.flickr.com/photos/88650008@N05/
Ibadah haji adalah salah satu dari ke-5 (lima) rukun Islam. Ibadah haji adalah bentuk perjalanan ziarah ke Masjidil Haram di Mekkah, yang mana Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam telah melarang perjalanan ziarah menempuh perjalanan jauh kecuali ke 3 tempat saja.

Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"janganlah kalian bepergian jauh melakukan safar kecuali ke tiga masjid : Masjidku ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibadah haji dalam Islam ini tidak sama dengan bentuk ziarah yang dilakukan umat lain. Ibadah haji bukanlah ziarah mengunjungi makam orang - orang suci yang dikeramatkan, bukan pula sebuah ziarah ke biara - biara untuk meminta berkat dan pertolongan dari orang - orang yang dikultuskan, dan bukan pula sebuah pencarian akan terjadinya sebuah keajaiban. Meskipun ada sebagian muslim yang melakukan hal - hal tadi, tapi itu bukanlah dari ajaran Islam.
Umat Islam menunaikan ibadah haji di Masjidil haram disebut juga Baitullah : Rumah Allah. Rumah Allah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah. Allah menisbatkan tempat ini dengan Nama-Nya, Baitullah : Rumah Allah, sebagai sebuah bentuk pemuliaan bagi tempat ini. Allah menjadikan tempat ini sebagai pusat di mana kaum muslimin di seluruh dunia menghadap ke tempat ini ketika melaksanakan shalat. Ibadah haji yang dilaksanakan kaum muslimin pada hari ini adalah ibadah yang sama dengan ibadah haji yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Ibadah haji dimulai pada tanggal 8 pada bulan terakhir dalam penanggalan Islam, bulan Dzulhijjah, dan akan berakhir pada hari ke-13 pada bulan yang sama.
Dalam ibadah haji inilah kita bisa melihat kemuliaan dan keindahan ajaran agama Islam. Dalam ibadah haji kita menyaksikan jutaan manusia berbagai suku bangsa dari seluruh dunia berkumpul di tempat yang sama, melakukan ritual ibadah yang sama, dan memakai pakaian yang sama untuk menyembah Tuhan yang sama.

 Dalam ibadah haji kita tidak  melihat perbedaan antara seorang raja, presiden dan rakyat biasa.
Bangsawan dan rakyat jelata memakai pakaian yang sama, dan tidak ada yang istimewa. Perbedaan warna kulit tidak ada artinya. Seorang kulit putih dari benua eropa akan berdiri sejajar dengan seorang kulit hitam dari afrika. Mereka pada waktu dan tempat yang sama melakukan ibadah kepada Sesembahan yang sama, yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Dia.
Inilah persaudaraaan yang sejati, persaudaraan internasional di atas keimanan kepada Allah Dzat yang Esa.

Seharusnya semua umat manusia di seluruh dunia melihat keindahan Islam ini. Nah,lalu apa itu ibadah haji dalam Islam? Mari kita simak..

Definisi Ibadah haji

Haji secara bahasa berarti "menuju", adapun menurut istilah syar'i ibadah haji adalah pergi menuju baitullah al Haram dan masyair (tempat - tempat pelaksanaan haji), untuk menunaikan ibadah tertentu, pada masa tertentu, dan dengan kaifiyat (cara) tertentu. (Shahih Fiqih Sunnah Kitab Haji dan Umroh)

Hukum Haji

Haji hukumnya adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap muslim) bagi mukallaf yang mampu sekali dalam seumur hidupnya.
Allah berfirman: 
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS ali imron : 97)

Syarat wajib Haji

Seseorang dituntut/diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji jika dia memenuhi kriteria berikut ini:
  1. Islam dan berakal. Kedua kriteria ini adalah juga merupakan syarat sahnya haji,artinya jika tidak terpenuhi syarat ini maka hajinya tidak sah. Orang non-muslim ataupun orang gila yang melaksanakan ibadah haji, maka hajinya tidak sah.
  2. Baligh dan merdeka. Kadua kriteria ini merupakan syarat untuk mengugurkan kewajiban haji dari pelakunya dan bukan termasuk syarat sahnya haji. Artinya orang yang masih anak - anak dan budak belum wajib haji, akan tetapi jika mereka menunaikan haji, maka hajinya tetap sah. akan tetapi kewajiban hajinya tidak gugur ketika anak - anak tadi telah menginjak dewasa atau budak tadi akhirnya merdeka. "siapa saja budak yang mengerjakan haji kemudian ia dimerdekakan, maka ia wajib mengerjakan haji sekali lagi. Barangsiapa yang mengerjakan haji sewaktu kecil kemudian ia baligh, maka ia wajib mengerjakan haji sekali lagi." (hadits riwayat ibnu khuzaimah dushahihkan oleh syaikh al albani,lihat al -irwa' IV/59)
  3. Memiliki Kemampuan. Adapun kemampuan ini, maka ia syarat  wajib haji saja. Artinya jika ada orang yang tidak memiliki kemampuan berhaji, tetapi ia nekat melaksanakan ibadah haji, maka hajinya sah dan telah gugur kewajibannya dari melaksanakan ibadah haji. Lalu kemampuan seperti apa sehingga seseorang wajib berhaji?
  • Sehat jasmani dan bebas dari penyakit yang menghalanginya dari melakukan manasik haji;
  • Memiliki bekal yang cukup untuk perjalanan, menetap dan kembali ke negerinya yang lebih dari tuntutan kebutuhannya seperti utang dan nafkah keluarga dan yang wajib dinafkahinya;
  • Keamanan harta dan jiwa dalam perjalanan;
  • adanya mahram dan izin yang menyertai wanita yang ingin berhaji, jika tidak ada mahram yang menyertai, maka wanita tadi tidak wajib berhaji. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali didampingi oleh mahramnya. dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya".Lalu bangkitlah seorang lelaki seraya berkata, "wahai Rasulullah sesungguhnya isteriku akan keluar menunaikan haji, sementara aku telah mendaftar ikut perang ini dan itu." Nabi berkata, "pergilah berhaji bersama isterimu!" (HR.Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Ibadah Haji
  1. Haji menghapus dosa - dosa terdahulu. diriwayatkan dari Abu Hurairah , Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, " barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berkata keji dan berbuat kefasikan,maka ia kembali dari hajinya seperti   bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya." (HR Bukhari dan Muslim)
  2. Haji merupakan sebab terbebas dari api neraka. Rasulullah bersabda, " tidak ada satu hari pun di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat." (HR. Muslim)
  3. Balasan haji hanyalah surga. Rasulullah bersabda, "dari umroh ke umroh adalah penegus dosa yang terjadi di antara keduanya, dan tidak ada balasan yang setimpal bagi hajiyang mabrur selain surga." (HR Bukhari dan Muslim)
  4. Haji adalah jihad yang paling afdhal/ utama bagikaum wanita. Diriwayatkan dari Aisyah ,ia berkata,"wahai Rasulullah,kami lihat jihad adalah amalan yang paling utama, bolehkah kami berjihad?" Nabi menjawab,"tidak,akan tetapi bagi kalian jihad yang lebih utama ialah haji mabrur." (HR. Bukhari) 
Adapun untuk rincian tata cara ibadah haji silahkan lihat di Tuntunan Ibadah Haji(1).

Tanya Jawab 
Apakah umat Islam menyembah ka'bah?
(dari beritamuslimshohih.wordpress.com)
Ada beberapa kalangan di luar Islam yang mereka tidak faham, tidak mengerti tentang Islam, mereka berkata : “Lihatlah orang-orang Islam, mereka menyembah ka’bah !”
Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”
Ka’bah hanyalah benda mati, ia hanya dijadikan oleh Allah Jalla wa ‘Ala sebagai kiblat umat muslim dalam ibadah khususnya sholat dan haji.
Perkataan atau ucapan mereka ini didasari atas mereka melihat kaum muslimin ketika sholat menghadap kea rah ka’bah, lalu mereka berkesimpulan : orang Islam menyembah ka’bah.
Terhadap ucapan jelek mereka ini kita jawab :
Sesungguhnya orang-orang Islam hanya menjadikan Ka’bah sebagai arah hadap dalam menyembah Alloh, bukan menyembah ka’bah. Sebagaimana firman Alloh ta’ala :
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ
Hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan, Alloh ta’ala, Tuhan Yang memiliki Rumah ini, Yang memiliki Ka’bah.”
Ka’bah sendiri berarti kubus persegi empat yang dalamnya kosong, tidak ada apa-apanya. Adapun Hajar Aswad ada di pojokan luar ka’bah, bukan di tengah-tengah ka’bah. Kemudian fungsi Ka’bah hanyalah sebagai arah hadap, karena Qiblat artinya arah hadap.
Dapat dibayangkan andaikata umat Islam tidak punya arah qiblat, maka bagaimana sholat jama’ah mereka ? Imamnya ingin ke utara, makmumnya mungkin ada yang ingin ke selatan, ada yang ingin ke barat, kacau sholat jama’ahnya. Supaya orang Islam berada di dalam satu kesatuan dengan persatuan yang kuat ketika mereka menyembah Alloh ta’ala, maka Alloh ta’ala menetapkan arah qiblat. Dan ini bukan berarti orang Islam menyembah Ka’bah. Walaupun mereka menghadap ka’bah tetapi ini bukan berarti orang Islam menyembah ka’bah. Kenapa ? Karena orang Islam hanya menjadikan ka’bah sebagai pematok arah. Karena yang namanya pematok arah tidak akan sempurna kalau tidak terlihat. Maka dibangunlah oleh Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ka’bah sebagai pematok arah supaya orang melihat : Oh ke arah sana, ke arah ka’bah hendaknya kaum muslimin seluruh dunia menyatukan arah. Karena tidak mungkin mereka sholat menghadap ke atas, karena Alloh ada di atas langit. Tidak mungkin ! Maka kaum muslimin diperintahkan menghadap ke arah yang sama dengan satu patok yang sama, yaitu ka’bah.
Bukti kalau orang Islam tidak menyembah ka’bah yaitu sebelum orang Islam menyembah Alloh ta’ala dengan menghadap ke arah ka’bah, lebih dahulu Alloh ta’ala memerintahkan mereka menghadap kea rah Baitul Maqdis. Jadi kita, pada awal-awal Islam, kita diperintahkan menyembah Alloh ta’ala dengan menghadap kea rah Baitul Maqdis yang ada di Palestina. Ini pada awal-awal Islam. Sampai kemudian turun ayat akibat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dicemooh oleh orang-orang Yahudi : Lihatlah orang-orang Islam, mereka mengikuti, mengekor qiblat kami !” kata orang-orang Yahudi. Karena orang Islam ketika awal-awal Islam mereka sholat dengan menghadap ke Yerussalem, menghadap ke Baitul-Maqdis di Palestina. Maka ini mengundang cemoohan orang-orang Yahudi. Ini membuat Rosul gelisah, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kepada Alloh berkali-kali : Ya Alloh, Ya Alloh. Meminta agar dipalingkan, dikembalikan qiblatnya, arah hadapnya ke Baitulloh, ke Ka’bah, ke Masjidil-Haram. Andaikata orang Islam, Rosululloh dan kaum muslimin menyembah ka’bah, tidak perlu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam minta ijin. minta kepada Alloh, bahkan berkali-kali agar dapat dihadapkan kembali ke Masjidil Haram, sebagaimana pada zaman Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas-salaam.
Sampai akhirnya Alloh turunkan ayat :
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ
“Kami sering melihatmu, kata Alloh ta’ala : Kami sering melihatmu membolak-balikkan wajahmu ke langit, “ Apa artinya ? Kami sering melihatmu hai Muhammad – shollallohu ‘alaihi wa sallam – membolak-balikkan wajahmu ke langit, yaitu memohon kepada Alloh. Ini, Rosul harus memohon berkali-kali agar bisa dihadapkan kembali ke Masjidil Haram. Andaikata Rosul menyembah ka’bah, orang Islam menyembah ka’bah, tidak perlu memohon kepada Alloh agar dipindahkan arah qiblatnya ke Baitulloh.
Wallahu a'lam


Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

Tata Cara Mandi Besar Sesuai Petunjuk Nabi

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH