Perjalananku Seorang Yang (Pernah) Tidak Beragama Menemukan (Kembali) Islam bag-1

perjalanan seorang tidak beragama menemukan islam
 Dahulu saya pernah bingung, kenapa agama itu berbeda - beda? Saya melihat setiap agama mengklaim orang yang bukan pemeluk agamanya dicap sebagai kafir dan masuk neraka. Lalu saya melihat, ada orang yang sangat baik hati, tapi dari agama yang berbeda, apakah dia pantas untuk masuk neraka? dan banyak lagi pertanyaan- pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya waktu itu. 
Perlu diketahui, waktu itu, saya juga percaya adanya Tuhan. Back ground keluarga saya Islam, meskipun tidak taat, hanya Islam KTP saja waktu itu.

Saya sangat kritis terhadap semua agama yang saya dapat, baik itu ceramah maupun pendidikan agama di sekolah. Di tengah kebimbangan ini, saya sempat merenung, munculah pertanyaan apakah Tuhan pernah menurunkan suatu agama? Apakah Tuhan menurunkan agama yang bermacam - macam atau hanya satu agama saja. Saya belum juga mendapatkan jawabannya waktu itu. 

Saya berpikir keras. Jika Tuhan Maha Pengasih, tentu Dia tidak akan membiarkan umat manusia terombang - ambing dalam kebingungan. Saya pakai logika saja waktu itu. Saya berfikir, bahwa manusia yang begitu banyak ini, tentu memiliki opini, pemikiran, latar belakang sosial yang beraneka ragam, sehingga jika Tuhan membiarkan manusia untuk menemukan cara hidupnya sendiri, tentu akan kacau. Sebuah perbuatan yang dinilai baik oleh suatu kelompok manusia tertentu, bisa dianggap buruk oleh kelompok lainnya. Manusia tidak punya patokan standar untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Sampai di titik tersebut, Saya mencoba menyimpulkan ,  seperti bapak yang tidak akan membiarakan anaknya tersesat di perantauan, jika Tuhan saja menurunkan air hujan untuk menghilangkan dahaga makhluknya di bumi,memberikan udara segar untuk bernafas, menumbuhkan tanaman untuk dimakan, maka Dia seharusnya juga tidak membiarkan manusia terombang - ambing dalam kebimbangan tanpa pedoman dan juga telah menurunkan sebuah petunjuk yang bisa dipakai semua manusia sebagai standar nilai kebenaran. .Dan seharusnya petunjuk ini hanya satu dan berlaku untuk semua umat manusia . Lalu apakah petunjuk itu berupa agama yang bermacam - macam ini?

Pada titik pemikiran tersebut, mulaialah saya dengan pencarian apakah agama itu petunjuk Tuhan ataukah hanya akal - akalan manusia? Kalau benar agama itu petunjuk Tuhan, agama yang mana? Lalu jika begitu, mengapa ada banyak agama di dunia ini? satu sama lain saling mengkafirkan. Bukankah petunjuk dari Tuhan itu seharusnya hanya ada satu macam, karena dijadikan sebagai standar nilai kebenaran semua manusia. Mulailah saya dengan belajar sejarah, belajar agama. 

Ada beberapa hal yang membuat orang seperti saya jadi tambah bingung ketika belajar agama. Apapun agamanya.
1. Mempelajari agama dari orang yang salah, yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama , tetapi dianggap sebagai orang yang berilmu. Dalam kasus saya yang background nya Muslim, saya sering pusing mendengarkan penjelasan yang membingungkan dari para penceramah yang sebenarnya tidak berkompeten ini, Walaupun orang -orang menganggapnya ustadz/kyai. Apa yang membuat saya mengatakan bahwa dia tidak berkompeten, adalah karena dia menyampaikan ceramah keagamaan hanya dari pendapat -pendapat pribadinya saja atau istilah kasarnya "ngawur". Dia tidak mengambil ilmu agama dari sumber referensi yang seharusnya, tetapi hanya ngawur saja, menurut saya. Orang - orang seperti inilah, yang membuat banyak orang salah dalam memahami agama, dan pada akhirnya, orang yang kritis seperti saya jadi malas beragama.

2. Mempelajari agama tidak merujuk pada sumber referensi yang seharusnya. Ibarat jika kita ingin mempelajari ilmu kedokteran, tentu kita merujuk pada buku - buku kedokteran yang diakui di dunia kedokteran. Mempelajari Islam seharusnya merujuk pada  al Qur-an. Konsep ketuhanannya seperti apa menurut al Qur-an dan seterusnya. Begitu juga jika kita ingin mengenal agama lain, Kristen misalnya, kita buka Injil, bagaimana konsep ketuhanan menurut Injil dst. Bukan sekedar opini ustadz, ataupun pendeta. Tentu bukan sama sekali tanpa bimbingan ulama. Dengan bimbingan ulama, ustadz, tapi yang benar - benar merujuk pada referensi yang seharusnya.

3. Mempelajari atau melihat ajaran sebuah agama, hanya dari perilaku umatnya saja. Sangat sering pemeluk suatu agama tidak menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agamanya.

Setelah proses pemikiran yang panjang, akhirnya saya pada satu kesimpulan, bahwa Tuhan seharusnya memang telah/pernah menurunkan satu petunjuk hidup, kita menyebutnya sebagai agama, yang sama sejak manusia ada di muka bumi ini sampai sekarang. dan saya sekarang telah memutuskan memeluk suatu agama itu. Lalu kenapa agama yang dari Tuhan itu bermacam - macam? yang membuat agama bermacam - macam itu adalah ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Ada segelintir atau bahkan banyak manusia yang tidak mau diatur dengan aturan Tuhan, dia lebih memilih mengikuti hawa nafsunya. Lalu diubahlah pedoman Tuhan yang lurus itu,menjadi bengkok di sana - sini sesuai selera manusia. 
Akhirnya timbullah berbagai macam aliran keagamaan, dan menjelma menjadi ajaran agama baru yang menyimpang dari agama Tuhan yang asli tadi. Makin lama perbedaan diantara agama - agama ini makin banyak dan semakin jauh dari ajaran agama yang asli sejak semula. Manusia yang menyelewengkan ajaran Tuhan yang murni dan lurus menjadi agama yang bermacam - macam sepanjang sejarah umat manusia. Selama itu pula Tuhan selalu meluruskan kembali petunjuk - Nya dengan diutusnya para utusan Tuhan silih berganti, dari masa ke masa sampai saat ini. 

Sebagai contoh saja, agama yang dibawa oleh Musa. Orang Yahudi, Kristen, dan Islam menyebutnya Nabi Musa. Dari umat Musa ini saja muncul berbagai macam aliran keagamaan yang menyimpang dari ajaran yang dibawa Musa. Ada yang mengagungkan patung anak sapi, ada yang menyembah Uzair, melanggar 10 perintah Tuhan, dan lain - lain. Dari penyimpangan - penyimpangan ini, lambat laun terbentuklah/ terlembagakanlah agama - agama baru yang saling berbeda dan semakin jauh dari apa yang dibawa Musa. Itu sekedar contoh saja. 
Ada diantara agama- agama itu yang masih tersisa sedikit dari ajaran asli dari Tuhan, ada yang tidak tersisa ajaran dari Tuhan sedikitpun, tapi ada juga yang tetap murni 100% masih seperti sedia kala ketika Tuhan menurunkannya.
Lalu, yang mana diantara sekian banyak ajaran agama ini, yang merupakan agama yang benar - benar dari Tuhan? bagaimana cara menentukannya? Di situlah tugas kita untuk mencarinya menggunakan akal sehat yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Dari beberapa agama yang saya amati, akhirnya saya memutuskan untuk kembali kepada Islam. Agama inilah satu - satunya agama yang terjaga kemurniannya. Kenapa saya bisa berkata begitu? Logika saya sederhana saja, dan saya tidak akan membahas secara rinci perbandingan agama yang rumit di sini. Logikanya, agama yang benar - benar berasal dari Tuhan, haruslah jelas dalam konsep Ketuhanan. Simpel dan mudah dipahami. Logikanya, siapa lagi yang harus kita sembah kalau bukan Tuhan yang menciptakan alam semesta ini? Dan hanya Islamlah yang secara tegas menyatakan "tiada yang berhak disembah selain Tuhan(Allah)", Laa ilaha illallah.. Tiada sekutu dalam Penyembahan kepada-Nya. Kita hanya menyembah Dzat yang Menciptakan jagad raya ini , dialah Allah. Inilah seruan yang pernah diserukan  oleh semua nabi dari masa ke masa. Inilah seruan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, seruan yang sama, Tiada yang berhak disembah selain Tuhan (Allah), tiada sekutu bagi-Nya.

Adapun agama yang lain, maka mereka memiliki sesuatu yang juga harus disembah selain Tuhan. Ada yang memuja "Penjaga Laut", "Penjaga Gunung", memberikan persembahan/sesaji kepada penunggu sungai,dan sejenisnya. Ada juga agama yang Menyembah Tuhan, dan di saat bersamaan menyatakan Tuhan itu ada tiga unsur, dengan menjadikan malaikat Jibril dan Nabi Isa sebagai salah satu dari unsur Ketuhanan yang harus disembah. Ada yang menyembah jin penunggu, menyembah makam  leluhur, menyembah  Nabi, menyembah berhala, dan masih banyak lagi. 

Tuhan telah mengirim utusan kepada semua bangsa di bumi ini. Menyerukan penyembahan hanya ditujukan kepada Tuhan saja. Tentu saja, manusia yang menolak seruan ini adalah manusia yang tidak menggunakan akalnya dan tidak tahu diri. Bagaimana mungkin dia menyembah sesuatu yang selain Tuhan?atau menyembah  Tuhan , akan tetapi di saat bersamaan menyembah makhluk ciptaan Tuhan. Ini adalah sebuah kesalahan/dosa yang besar.

Lalu bagaimana dengan orang yang belum sampai kepadanya dakwah dari agama Islam, misalnya dia tinggal di daerah terpencil, apakah pantas baginya untuk disebut kafir? atau ada penjelasan lain? bersambung..

Comments

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam