Kisah Nabi Nuh, Memberantas Awal Mula Kemusyrikan

Kisah Nabi Nuh, Memberantas Awal Mula Kemusyrikan
"Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah - kisah itu agar mereka berfikir" (qs al A'raf : 176)

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyampaikan sedikit kisah tentang seorang Nabi yang sangat populer. Tidak hanya populer di kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan umat Yahudi dan Nasrani. Dia adalah Nabi Nuh 'alaihis salam (salam sejahtera baginya). Dengan mengetahui kisah - kisah para Nabi, semoga semakin menguatkan iman anda setelah anda masuk Islam.

Masa Hidup Nabi Nuh
Nabi Nuh hidup sekitar tahun 3993 SM - 3043 SM. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Nabi Nuh adalah utusan Allah yang pertama untuk umat manusia. Utusan Allah yang pertama untuk kaum yang pertama kali melakukan kesyirikan/ penyekutuan Allah dengan selain Allah. Menurut Ibnu Katsir, Nabi Nuh diutus kepada bani Rasib 126 tahun sepeninggal Nabi Adam.

Awal Terjadinya Kemusyrikan Adalah Berlebih - lebihan Menghormati Orang Shalih
Sejak Nabi Adam turun ke dunia dan memiliki keturunan di bumi, belum pernah terjadi kesyirikan / menyekutukan Allah dalam beribadah dengan penyembahan berhala, umat manusia anak keturunan Nabi Adam masih lurus dalam tauhid. Hingga datangnya umat Nabi Nuh. Terjadinya kesyirikan di tengah umat manusia pada waktu itu tidak datang secara tiba - tiba. Ada tahap - tahap sehingga umat manusia terjerumus ke dalam penyekutuan Allah , penyembahan berhala.

Pada mulanya , ketika ada orang shalih di antara mereka meninggal dunia, maka dibuatkanlah patung orang shalih tersebut dalam rangka menghormati dan mengenang orang shalih tersebut. Agar patung tersebut bisa memotifasi orang - orang setelahnya untuk semakin giat dalam beramal shalih. Kemudian setelah generasi berganti, dibisikkanlah oleh syeitan kepada generasi yang terkemudian bahwa para leluhur mereka mendirikan patung orang shalih ini untuk dijadikan sesembahan selain Allah, sebagai sarana agar mendekatkan mereka kepada Allah. Akhirnya patung - patung ini pada akhirnya disembah oleh manusia, ketika ilmu telah hilang.

Demikianlah kurang lebih penjelasan Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul Anbiya'.

Ibnu Abbas berkata, " Berhala - berhala yang ada di kaum Nuh inilah yang juga akhirnya muncul di tengah - tengah bangsa arab".

Di dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan di mana Ummu Salamah dan Ummu Habibah menyebutkan di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , mengenai gereja yang mereka lihat di daerah Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama Mariyah , serta menyebutkan keindahan dan gambar - gambar di dalamnya ,  beliau bersabda,
"mereka itulah suatu kaum yang jika ada orang saleh di antara mereka yang meninggal dunia , maka mereka membangun masjid di makamnya itu, lalu mereka melukiskan gambar - gambar di dalamnya . Mereka itulah sejahat - jahat manusia di sisi Allah 'Azzawa Jalla."

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Qashashul anbiya',bahwa berhala yang pertama kali dibuat dan disembah umat manusia adalah patung Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Kesemuanya adalah nama ulama yang hidup pada masa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh.

Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang - orang yang harta dan anak - anaknya tidak menambah kepadanya selain kerugian belaka. Dan mereka melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata," Jangan sekali - kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa', yaghuts, yauq, dan nasr."
(QS Nuh ayat 21 -23)

Maka diutuslah Nabi Nuh sebagai rasul(utusan) yang pertama kepada umat yang pertama kali melakukan penyembahan kepada selain Allah ini.


Dakwah Nabi Nuh dan Tanggapan Kaumnya.
Nuh mendakwahi kaumnya selama 950 tahun siang dan malam, agar mereka menyembah Allah saja dan meninggalkan sesembahan - sesembahan selain Allah.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata) "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan" (qs Hud : 25 - 26)

Nuh berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada Nya , dan taatlah kepadaku". (QS Nuh: 2-3)

 Akan tetapi kaum Nabi Nuh tidak menyambutnya bahkan menyombongkan diri, dan tetap tidak meninggalkan penyembahan berhala.
Tidak ada yang mengikuti seruan Nabi Nuh kecuali hanya sedikit saja.

Perdebatan Nabi Nuh dan kaumnya

Dia (Nuh) berkata,"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). (QS Nuh ayat 5-6)

"Maka berkatalah pemimpin - pemimpin orang kafir dari kaumnya,"kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang - orang yang mengikuti kamu, melainkan orang - orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kalian adalah orang - orang yang dusta". (QS Hud ayat 27)

Demikianlah, kebanyakan pengikut para nabi adalah orang - orang lemah, direndahkan dan diremehkan.

28. Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?” (QS. 11:28)
29. Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabbnya akan tetapi aku memandangmu sebagai kaum yang tidak mengetahui”. (QS. 11:29)
30. Dan (dia berkata): “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran 717?” (QS. 11:30)
31. Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak juga mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: “Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat”, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. (QS. 11:31)

Bahkan kaum Nabi Nuh menantang Nabi Nuh untuk menurunkan adzab jika memang Nabi Nuh adalah orang yang benar.

Mereka berkata,"Wahai Nuh! Sungguh engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar."(QS Hud : 32)

Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (QS. Hud:33)

Perintah Untuk Membuat Kapal dan Olok - olok Orang Kafir

36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 11:36)
37. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 11:37)
38. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (QS. 11:38)
39. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. 11:39)

Datangnya Adzab kepada kaum Nabi Nuh

40. Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. 11:40)
41. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 11:41)
42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya , sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS. 11:42)
43. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindunganke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan, (QS. 11:43)
44. Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan 720 dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi , dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (QS. 11:44)
45. Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. (QS. 11:45)
46. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. 11:46)
47. Nuh berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. 11:47)
48. Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”. (QS. 11:48)

Demikianlah secara singkat kisah Nabi Nuh yang bisa kami sampaikan. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Nabi Nuh ini.
  1. Kekayaan dan kebesaran seseorang sering membuatnya sombong dan enggan menerima kebenaran. Apalagi jika kebenaran itu berasal dari orang yang mereka anggap orang rendahan.
  2. Kesabaran dakwah Nabi Nuh menghadapi kaum yang sombong dan selalu berpaling dari kebenaran. Dengan mengetahui kisah ini, hendaknya menjadikan kita juga bersabar dalam menyeru manusia kepada agama Allah.
  3. Hidayah hanya milik Allah dan nasab keturunan tidak ada manfaatnya. Betapapun cintanya Nabi Nuh kepada anak dan istrinya, akan tetapi Nabi Nuh tidak sanggup memberi hidayah kepada mereka tanpa izin Allah, sehingga anak istri Nabi Nuh tetap dalam kekafiran. Bersyukurlah jika anda mendapat hidayah untuk masuk Islam dan menjalankannya dengan baik.
  4. Kemusyrikan di tengah - tengah manusia tidak muncul secara tiba - tiba, tetapi muncul dengan perlahan - lahan. Awalnya cuma menghormati orang shalih yang meninggal, lambat laun, mereka berlebihan dalam memberikan penghormatan kepada orang shalih, dan akhirnya menjadikan mereka sebagai sesembahan selain Allah.


Rujukan :
Terjemah Kitab Qishashul 'Anbiya karya Ibnu Katsir
Rekaman Ceramah Kisah Nabi Nuh oleh Ustadz Firanda Andirja Lc (Penceramah Masjid Nabawi)

Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

Tata Cara Mandi Besar Sesuai Petunjuk Nabi