Adab Wanita Muslimah dari Dua Wanita Madyan (Kisah Nabi Musa bagian 2)

Adab Wanita Muslimah dari Dua Wanita Madyan
Melanjutkan Kisah Nabi Musa bagian 1, ketika Musa beranjak dewasa setelah dibesarkan di istana Fir'aun sebagai seorang anak angkat Raja.

Pada bagian ini, kami ingin menyoroti bagaimana seorang wanita yang beriman memiliki adab dalam bergaul.
Hal itu bisa kita lihat pada kisah yang terjadi antara Nabi Musa dengan dua orang wanita dari negeri Madyan.

Semoga bisa menjadi gambaran seorang wanita beriman bagi wanita mualaf yang baru saja masuk Islam.

Ringkasan kisah yang lalu
Oleh karena Firaun yang memberlakukan peraturan untuk membunuh setiap bayi laki- laki dari Bani Israil, akhirnya ibu Musa mendapat ilham untuk membuang bayi Musa ke sungai.

Bayi Musa kemudian ditemukan oleh istri Firaun. Merasa tertarik dengan bayi Musa, dibujuklah Firaun suaminya untuk menjadikan Musa sebagai anak angkat.
Akhirnya jadilah Musa anak angkat Firaun yang dibesarkan di istana Firaun.

Nabi Musa membunuh orang suku Firaun(Qibthi)
Kemudian dikisahkan di dalam Al Qur-an bahwa suatu hari Musa memasuki sebuah kota (kota Memphis). Didapatilah oleh Musa dua orang yang sedang berkelahi. Orang yang satu berasal dari suku FIr'aun, sedangkan orang yang satunya lagi berasal dari sukunya Musa (bani Israil).

Orang yang dari bani Israil meminta bantuan Musa. Di Mesir, Nabi Musa memang terkenal dengan keberanian dan keperkasaannya. Akhirnya, dipukullah orang yang dari suku Fir'aun, tanpa sengaja, pukulan itu membuat orang tersebut meninggal dunia.

Musa sangat menyesali perbuatannya. Dia tidak bermaksud untuk membunuhnya. Akhirnya Musa menjadi takut tinggal di Mesir, kalau - kalau Fir'aun dan bala tentaranya mengetahui kejadian ini dan akan membunuh Nabi Musa.

Nabi Musa Menuju Negeri Madyan
Bergegaslah Musa meninggalkan negeri Mesir.
"Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu- nunggu dengan khawatir, dia berdo'a : " Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang - orang yang zhalim itu". (QS al Qashash : 21)

Musa menempuh jalan menuju negeri Madyan. Sebuah tempat yang diyakini terletak di sebelah barat laut Hijaz, di pantai timur dari teluk Aqaba, dan ke arah utara Laut Merah, di suatu tempat yang disebut al Bada'.

Sampailah Musa di sumber air negeri Madyan.

Nabi Musa bertemu dua orang wanita yang akan meminumkan ternaknya. Kemudian Nabi Musa menolong mereka meminumkan ternaknya.

"Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa lagi, "Mudah - mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar". Dan ketika ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu,dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab : "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala - penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo'a :"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku"  (Qs al Qashash 22-24)

Kedua wanita ini, terpaksa keluar untuk meminumkan ternak mereka di sebuah sumber air, karena bapak mereka sudah tua, dan lemah untuk mengerjakan tugas ini. Akan tetapi, kedua wanita ini juga tidak mau berdesak - desakan dengan lawan jenis untuk mengambil air, sehingga harus menunggu para laki - laki selesai mengambil air.

Nabi Musa berdoa karena kelaparan
kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo'a :"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku"  (Qs al Qashash 24)
Nabi Musa telah menempuh perjalanan jauh berhari - hari dari Mesir ke Madyan tanpa bekal makanan. Musa hanya memakan rumput -rumputan selama perjalanan.

Kemudian Nabi Musa mendapat tawaran berkunjung ke rumah bapak dua orang wanita.
"Kemudian datannglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu - maluan, ia berkata : "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu, memberi minum (ternak) kami. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Dia(bapak dua orang wanita) berkata :"Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang - orang yang zhalim itu". (QS al Qashash : 25)

Perjalanan Pulang ke Rumah Bapak Kedua Wanita Madyan

Ada kejadian menarik sebagaimana diceritakan dalam Qishashul Anbiya. Ketika Musa dan dua orang wanita dari Madyan ini pulang menuju rumah kedua wanita, tadinya posisi kedua wanita berjalan di depan Musa. Kedua wanita ini yang punya rumah , yang tahu arah jalannya. Jadi mereka berjalan di depan Musa sebagai penunjuk jalan.

Hal ini tidak berlangsung lama, sampai Musa berkata kepada kedua wanita di depannya, "Hendaklah engkau berjalan di belakangku. Jika aku salah jalan, lemparkanlah kerikil untuk memberitahukan padaku akan jalan yang benar.

Sekarang penunjuk jalan ada di belakang, memberi isyarat arah jalan kepada Musa yang ada di depan.
Pelajaran dari kejadian ini adalah:
Dengan posisi semula Musa di belakang kedua wanita di depan, tampak dalam pandangan Musa kedua wanita Madyan itu.

Musa seorang pemuda yang belum menikah. Dengan melihat kepada wanita yang tidak halal baginya, tentu hal itu sangat menganggu dan sebuah fitnah ( cobaan) syahwat.

"Wanita itu aurat, ketika ia keluar, setan akan memperindahnya” (HR. At Tirmidzi)

Maka sebagai seorang pemuda yang ingin menjaga pandangan matanya dari syahwat yang diharamkan, Musa berinisiatif untuk berjalan di depan. Sedangkan kedua wanita berjalan di belakang Musa. Fungsi penunjuk jalan tetap dilakukan dengan memberikan isyarat kepada Musa.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan dengan seksama, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah menyergap/menangkap, dan kaki zinanya adalah melangkah”. [Mutafaq ‘alaih, lafazhnya bagi Muslim]

Nabi Musa mendapat tawaran untuk menikahi salah satu dari dua wanita yang meminumkan ternaknya. 
"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, " Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja(pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Berkatalah dia(bapak dua orang wanita) :"Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun,maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang - orang yang baik." (Al Qashash : 27)

Nabi  Musa Menerima Tawaran
"Dan (Musa) berkata :"Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu . Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan." (al Qashash : 28)

Akhirnya Musa menikahi salah seorang dari dua wanita tadi degan mahar bahwa Musa bekerja kepada bapak kedua wanita tadi selama 8 atau sepuluh tahun.

Pelajaran dari Kisah Musa dan Dua Wanita Madyan

Pada dasarnya seorang wanita adalah tetap tinggal di rumahnya kecuali memang ada kebutuhan yang diperbolehkan syari'at sehingga seorang wanita harus keluar rumah.
Anda bisa lihat, bahwa dua orang wanita dari Madyan ini terpaksa harus keluar rumah untuk memberi minum ternak mereka karena bapak mereka sudah tua. Seharusnya, bapak merekalah yang harus keluar meminumkan ternak, tetapi karena sudah tua, sehingga terpaksa kedua putrinyalah yang melakukannya.

"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala - penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".


“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Ketika keluar rumah, hendaknya seorang wanita beriman menjauhi berdesak - desakan dengan kaum laki - laki.
"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala - penggembala itu memulangkan (ternaknya),
Kedua wanita Madyan ini tidak mau berdesak - desakan dengan kaum pria dalam mengambil air. Mereka memilih menunggu sampai para laki - laki pergi.

Kemudian jika keadaan mengharuska wanita keluar rumah , maka harus memenuhu syarat - syarat berikut:

  1. Menutup aurat dengan sempurna, menggunakan hijab yang benar.
  2. Tidak memamerkan perhiasan dan keindahan tubuhnya;
  3. Tidak memperindah suara di hadapan lawan jenis;
  4. Menjaga pandangan
  5. Aman dari godaan dan gangguan;
  6. Atas seizin kedua orang tua atau suami jika sudah menikah.


Ketika dibutuhkan berinteraksi dengan lawan jenis, seorang wanita beriman menjaga adab kesopanan dan rasa malu.
Hal ini terlihat dari interaksi kedua wanita Madyan dengan Musa. Keadaan mengharuskan keduanya untuk berinteraksi satu sama lain. Musa ingin menolong kedua wanita tersebut, dan kedua wanita memang butuh bantuan.
"Kemudian datannglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu - maluan (Qs al Qashash)
Wanita beriman tidak memperindah cara berjalan dan cara berbicara dihadapan laki - laki yang bukan maramnya. Berbicara hanya sebatas keperluan saja.

Seorang laki - laki dan perempuan yang beriman hendaknya menjaga pandangan dan meminimalisir pandangan kepada lawan jenis yang tidak halal baginya.
Hal ini tampak dari kisah perjalanan Musa dan kedua wanita Madyan di atas. Musa tidak ingin berjalan dibelakang kedua wanita , sehingga sepanjang perjalanan dia bisa melihat sosok kedua wanita tersebut.
Dari Ali Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

يَا عَلِيُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ


Wahai Ali, janganlah engkau mengikutkan pandangan (pertama, yang tidak disengaja- pen) dengan pandangan (kedua, yang disengaja-Red), karena sesungguhnya engkau berhak pada pandangan pertama, tetapi tidak berhak pada pandangan yang akhir” (HR Hakim)


"Wanita itu aurat, ketika ia keluar, setan akan memperindahnya” (HR. At Tirmidzi)

Demikianlah sepenggal kisah Nabi Musa pada artikel ini. Insya Allah masih akan bersambung ke kisah selanjutnya.


Rujukan :

  • Terjemah Qishashul Anbiya Ibnu Katsir
  • Rekaman ceramah "Mendulang Hikmah dari Kisah Nabi Musa" oleh Ust. Firanda (Penceramah Masjid Nabawi)


Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

Tata Cara Mandi Besar Sesuai Petunjuk Nabi

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH