Pembatal - Pembatal Keislaman yang Harus Diketahui Mualaf

Pembatal - Pembatal Keislaman yang Harus Diketahui Mualaf
Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada agama yang lurus ini, agama Islam. Shalawat dan sallam semoga selalu atas Nabi Muhammad yang telah berjasa membawa risalah Islam ini , dengan perjuangan beliau, Islam bisa sampai ke negeri kita.

Pembatal Keislaman
Sebuah nikmat yang tak terhingga, ketika anda menemukan Islam. Allah memberi hidayah kepada anda untuk memeluk Islam. Agama yang membebaskan manusia dari ketundukan kepada selain Allah. Agama yang selaras dengan fitrah manusia, mengabdikan diri hanya kepada Tuhan Pemilik alam.

Kemudian setelah anda masuk Islam, hendaknya anda menjaga sekuat tenaga agar tetap istiqomah, konsisten di atas agama ini. Anda mempelajari pokok - pokok ajaran Islam, rukun Islam, rukun Iman, apa saja hal - hal yang diharamkan, dan apa saja hal - hal yang dihalalkan dalam Islam.

Salah satu upaya itu adalah dengan mengenal apa saja yang bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

Pembahasan pembatal - pembatal keislaman ini sangatlah penting, terutama bagi seorang mualaf. Banyak dari kaum muslimin yang tidak mengetahui perkara ini, sehingga pada akhirnya terjerumus ke dalam kekafiran tanpa mereka sadari.

Berikut ini 10 Pembatal Keislaman menurut Al Qur-an dan Sunnah

1.Menyekutukan Allah (syirik).
Yaitu anda menjadikan sekutu, menjadikan perantara antara anda dengan Allah dalam beribadah kepada Allah. Misalnya berdo'a, meminta syafa'at, berserah diri, bernadzar, menyembelih qurban yang semua itu ditujukan kepada selain Allah.

Seperti menyembelih qurban untuk jin atau jin penunggu tempat "keramat", jin penungu desa, dan sebagainya dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu bisa mendatangkan manfaat, dan menolak bahaya.

“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf : 106)

2.Membuat Perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu berdo'a, memohon syafaat , dan bertawakal kepada mereka.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS az Zumar :3)


3.Tidak mengkafirkan orang -orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, bahkan membenarkan pendapat kafir mereka.
 Bagaimana anda tidak mengkafirkan orang - orang yang dikafirkan oleh Allah dalam Al Qur-an?

"Sesungguhnya telah kafirlah orang -orang yang berkata : sesungguhya Allah ialah Al-Masih putra Maryam". (Qs Al Maidah : 17,72)

Maka kita mengkafirkan orang - orang yang telah jelas dikafirkan oleh Allah di dalam Al Qur-an.

Akan tetapi perlu diketahui, bahwa mengkafirkan orang kafir tidak berarti bahwa kita boleh menzhalimi mereka  

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [al-Mumtahanah/60: 8]

4. Meyakini adanya petunjuk yang lebih baik dari petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Termasuk dalam pembatal ini adalah meyakini bahwa hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Islam. Atau berkeyakinan , bahwa Islam adalah penyebab ketertinggalan umat Islam. 

Menyatakan /berkeyakinan bahwa ajaran Islam sudah tidak relevan lagi sehingga perlu diganti atau diperbarui dengan hukum buatan manusia.

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah: 44]

"Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah: 50]

5. Tidak senang dan membenci terhadap apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia kafir.
“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang di-turunkan Allah (Al-Qur-an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 8-9]

6. Menghina Islam.
Yaitu orang - orang yang menghina Allah, Rasul, Al Qur-an, Malaikat. Atau menghina salah satu dari syiar - syiar Islam, seperti ritual peribadatan Islam, shalat, zakat, thawaf, menghina masjid , adzan, menghina sunnah -sunnah nabi, menghina memelihara jenggot karena mengikuti sunnah nabi, serta menghina tempat - tempat yang disucikan oleh agama Islam.

Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [At-Taubah: 65-66]

7. Melakukan Sihir
Melakukan berbagai jenis praktik sihir bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Seperti ilmu pelet, santet, memakai jimat, dan sejenisnya. Karena melakukan praktik sihir merupakan kemusyrikan.

Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya jampi, jimat, tiwalah (pelet) adalah perbuatan syirik (menyekutukan Allah)" (Hadits riwayat Abu Dawud).

Sangat disayangkan, banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hal ini. Mereka melakukan sihir, mencari pesugihan, memakai jimat, melakukan pelet, santet, dan yang sejenisnya, tetapi mereka tidak merasa keluar dariagama Islam.

Bahkan praktik sihir ini, diiklankan di media masa secara terbuka. Apalagi para pelaku praktik sihir ini menyebut dirinya sebagai kyai, ustadz, guru spiritual, dan sebagainya.

Hal ini tentu banyak mengelabui umat Islam yang awam, yang tidak mengetahui ilmu agama dengan baik.

8. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dalam rangka memerangi umat Islam.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin bagimu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 51]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Mumtahanah : 1-2)

9. Meyakini bahwa seseorang bisa keluar dari syariat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa seseorang boleh keluar dari syariat yang di bawa Nabi Muhammad sebagaimana Nabi Khidir yang tidak harus tunduk pada syariat Nabi Musa.

Mereka lupa, bahwa masing - masing Nabi , baik Musa maupun Khidir diutus untuk kaumnya masing - masing. Nabi Musa diutus untuk bani Israil, jadi Nabi Khidir tidak mengikuti syariat Nabi Musa yang diutus untuk Bani Israil.

Berbeda dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau diutus di akhir zaman untuk seluruh umat manusia.

Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari Radiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang rasul pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang dialami musuh sejauh perjalanan selama satu bulan, dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaklah dia shalat, dan dihalalkan bagiku ghanimah yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia." (Bukhari 328, Muslim 521

Bahkan seandainya Nabi Musa masih hidup di zaman ini, maka Nabi Musa wajib mengikuti Syariat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

“Demi Allah, jika seandainya Musa  hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak ada keleluasaan baginya kecuali ia wajib mengikuti syari’atku" (Hadits ini dihasankan oleh Al Albani dalam al Irwa')

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari agama Islam dan tidak beramal dengannya.
Yang dikatakan berpaling di sini adalah berpaling dari mempelajari pokok - pokok agama yang menyebabkan seseorang dikatakan sebagi seorang muslim, meskipun dia tidak mengetahui ilmu tentang hal - hal terperinci dalam agama.
Dia tidak mengetahui dan tidak mau tahu apa yang Allah wajibkan kepadanya.


Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Ahqaf : 3)

Demikianlah 10 pembatal keislaman yang harus anda ketahui. Semoga kita bisa konsisten di atas agama ini dan dijauhkan dari kekafiran.

Comments

iklan

iklan
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat

Popular posts from this blog

Tatacara Shalat Wajib 5 Waktu untuk Pemula Dilengkapi Gambar

Menentukan Tibanya Waktu Shalat Tanpa Jam dan Jadwal

Bagaimana Seorang Mualaf Memperdalam Ilmu Agamanya

9 Amalan Yang Harus Dibiasakan Seorang Mualaf

4 Alasan Mengapa Seseorang Masuk Islam

Pentingnya menuntut ilmu dalam Islam

Tata Cara Mandi Besar Sesuai Petunjuk Nabi

TATA CARA MENGERJAKAN WUDHU YANG BENAR SESUAI SUNNAH